Konsep AIDA Model dan Contoh Brand Menurut Para Ahli - Revesery -->

Konsep AIDA Model dan Contoh Brand Menurut Para Ahli

Konsep AIDA Model dan Contoh Brand Menurut Para Ahli - AIDA merupakan sebuah formula yang sering dipakai dalam sales, marketing, dan content writing. 

Dan di era social media spt saat ini (think youtube, FB, IG, Twttr) proses membangun hype agar lahirkan mega hits mungkin jadi lebih mudah. 

Saat seseorang sdh punya basis audience social media yg masif dan strong, penciptaan hype jd mudah dilakukan.

Film Pengabdi Setan jd mega hits bukan hanya krn produknya remarkable dan familiar (remake) tapi jg krn kreatornya (Joko Anwar) mampu ciptakan hype via twttr dan IG. 

Remarkable product x creative hype = mega hits.

Dlm model hirarki buying decision, dikenal prinsip AIDA : 

Awareness, Interest, Desire, Action

Jadi konsumen harus aware dulu, kenal, tumbuh minat, baru muncul desire dan lalu action pembelian. 

Nggak ujug2 langsung action beli.

Proses awereness atau pengenalan produk akan menyebar jika kreator mampu membuat hype. 

Jika hit makers sdh punya basis audience yg masif, maka kreasinya akan mudah menyebar dan berpotensi jd best sellers.

Interest dan desire akan muncul jika ada kombinasi "unsur kebaruan dan familiarity" dlm karya yg dilaunch (spt yg sdh diulas diatas).

radityadika dan ernestprakasa mungkin sampel hit makers di tanah air yg ulung. 

Produk2 film mrka selalu jadi best sellers. Knpa? Karena mrka berdua punya basis audience yg strong dan masif. 

Plus mrka berdua cakap dlm ciptakan hype disekitar launching karya2 mrka.

Kebanyakan dari kita ketika melakukan penjualan baik di marketplace, group whatsapp atau website hanya mencantumkan Fitur dan Feature.

Padahal jika kita bisa membuat deskripsi lebih menarik tentu closing sebuah penjualan akan semakin besar.

Sebagai contoh, ketika menulis sebuah judul headline penjualan biasanya hanya ditulis.

“JUAL Kalung Asli Batu Mutiara Lombok”

Padahal kalu kita mau menerapkan A (Attenttion) hal pertama yang harus kita lakukan adalah menarik pembaca untuk berhenti dan penasaran dengan headline kita.

Setelah headline, biasanya penjual akan menuliskan feature/fitur/bahan produk tersebut.

Nah mulai sekarang coba ganti dengan interest agar lebih menarik lagi pembaca untuk scroll penawaran kamu sampai bawah.

Interest : Dengan menggunakan [Produk ini] Otomatis!! Kamu akan menjadi pusat perhatian di [kantormu,sekolah,tongkrongan] dll sesuaikan dengan produk.

Desire: Produk ini terbuat dari mutiara asli Lombok yang diambil dari kedalaman 1km dibawah laut (misalnya ) warnanya akan menyesuaikan dengan outfit yang kamu kenakan .. FIX tambah cakep 

Action: Lengkapi koleksimu sekarang karena stock sangat terbatas!!

Konsep ini sama seperti lirik lagu Ariana Grande: I see it, I like it, I want it, I got it.

Apa itu dan bagaimana cara memakainya?

Sebelum kita membeli suatu barang, kita akan selalu melewati 4 tahap:

1. Awareness: Lihat iklan di medsos

2. Interest: Kita tertarik dengan iklannya

3. Desire: Kita ingin memiliki produk di iklan itu

4. Action: Kita membeli produk itu

Nah, setiap tahap ini perlu dipikirkan dengan matang, tetapi sering kulihat banyak UMKM atau konten media sosial kurang memperhatikan ini.

Konsep AIDA Model dan Contoh Brand Menurut Para Ahli

Kita coba bahas satu per satu secara sederhana. Semoga membantu.

KONSEP AIDA MODEL

1. Awareness

Pada tahap paling awal ini, kita perlu fokus untuk mencari cara agar mendapat perhatian audiens yang tepat.

Misalnya, Maudy memiliki bisnis toko buku impor. Pertama-tama, Maudy perlu memilih media yang sering dipakai penyuka buku.

Ia menemukan bahwa Twitterlah tempatnya. Pada tahap ini, Maudy perlu memperhatikan bahwa tujuannya sekarang adalah bagaimana ia bisa menjangkau sebanyak mungkin penyuka buku

Semakin banyak orang yang mengetahui tentang usaha Maudy, semakin banyak kesempatan Maudy untuk berjualan

Maudy pun bertanya, cara apa yang bisa kulakukan pada tahap ini ya? Ia coba brainstorm dan menulis beberapa kemungkinan:

1. Bikin review buku populer

2. Kolaborasi dengan akun Twitter yang suka kasih edukasi

3. Giveaway buku

4. Bikin thread buku favorit dari orang terkenal

Setelah dipikir-pikir dan disesuaikan dengan target audiens, Maudy ternyata ingin coba mengimplementasikan 2 poin awal: review buku dan kolaborasi.

"Oke, sekarang gimana caranya gua bisa bikin review buku dan kolaborasi ini menarik ya?"

2. Interest

Setelah mengetahui mana media yang tepat, target audiens yang dituju, dan konten seperti apa yang ingin dibuat, Maudy pun merancang cara agar orang-orang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bisnis dan produknya.

Pada tahap Interest ini, Maudy fokus untuk berempati kepada target audiensnya. Ia mencari, apa sih yang menjadi problem/pain points dari calon customernya?

Ternyata, pada saat itu, orang-orang banyak yang tergiring opininya dan penuh emosi ketika melihat suatu thread Twitter.

Maudy lalu sadar bahwa Ia bisa membuat konten mengenai pentingnya berpikir kritis di media sosial. 

Ia kemudian teringat bahwa ada 2 buku yang bisa membantu persoalan ini: Calling Bullshit dari Bergstrom dan Thinking, Fast and Slow dari Kahneman.

Dibuatlah kemudian suatu thread dengan tweet pertama seperti ini:

"Media sosial membuat kita sering terjebak pada pemikiran yang spontan, yang emosional. 

Hal ini tentunya berbahaya dan Kahneman mencoba membantu kita untuk berpikir kritis melalui sebuah sistem analitis."

Maudy pun melanjutkan threadnya dengan mengikuti tips-tips copywriting yang baik:

1. Buat kalimat/paragraf yang sederhana

2. Pakai bahasa yang sesuai dengan target audiens

3. Sistematis dan terukur

Senang karena sudah separuh jalan, Maudy kini memikirkan cara agar orang yang sudah membaca thread tadi untuk membeli bukunya.

"Ah! Kayaknya bisa deh bikin diskon untuk buku ini selama sehari aja..."

3. Desire

Pemikiran Maudy barusan masuk ke tahap Desire. Bagaimana kita membuat orang yang telah bertahan membaca review buku tadi menjadi seorang pembeli.

Salah satu caranya adalah memberikan promo terbatas. Ini membuat orang yang tertarik untuk membeli, ya selagi diskon.

Maudy perlu mencari cara agar target audiensnya punya urgensi untuk membeli buku tersebut. Itu memang pemikiran yang tepat, apalagi ya kira-kira yang bisa dilakukan dalam tahap Desire?

Coba kasih saran ke Maudy lewat reply tweet ini.

4. Action

Sekarang, Maudy sudah cukup senang. Ia sekarang cukup memberikan call to action sederhana agar orang-orang yang sudah tertarik untuk membeli tadi beneran beli.

"Jual lewat ecommerce deh, orang udah biasa pakai dan aman."

Akhirnya, Maudy menjual buku Kahneman tersebut lewat berbagai ecommerce yang ada dan memberikan linknya di akhir thread.

Ia pun kembali menulis, "Diskon terbatas untuk 50 pembeli pertama!"

That's it!

Kalian telah mempelajari formula AIDA dan ini bukan hanya bisa dilakukan untuk jualan, tapi juga ketika kalian memiliki akun media sosial atau lainnya.

Pada tahap desire dan action ya tinggal diganti jadi, "Follow 

 untuk belajar hal-hal baru, GRATIS!"

Next, mungkin ku akan coba share lebih detail seperti bagaimana membuat customer persona dan customer journey map yang membantu kita pada tahap awareness dan interest.

Juga hal-hal lainnya.

Ohya perlu diingat, kita perlu banyak percobaan juga untuk mengimplementasikan AIDA formula ini. Tidak ada yang langsung jadi, perlu proses.

Kalau kalian mau coba, feel free untuk DM, aku akan kasih saran yang (semoga) membantu. Gratis kok gaada konsultasi2 bayar.

Btw, banyak yang request AISAS karena sekarang lebih sering dipakai di kalangan digital marketer.

Sekian Konsep AIDA Model dan Contoh Brand Menurut Para Ahli

Ada pertanyaan? Silahkan komentar

Posting Komentar

Revesery.com

Revesery.com

download file ini untuk mencoba: 

Revesery.com

Revesery.com

 Download ==>>